Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

Buah Pengorbanan

Ketika mendengar kata Idul Adha, kita diingatkan kembali akan kisah pengorbanan yang mengharukan. Pengorbanan berantai keluarga Nabi Ibrahim q yang shalih. Ketika beliau menanyakan kepada Ismail tentang ru’yah shadiqah (mimpi yang benar) dari Allah. Mimpi yang memperlihatkan beliau menyembelih putra semata wayangnya. Putra yang sudah sekian lama beliau nantikan. Putra yang lahir ketika beliau sudah beranjak menuju usia lanjut.
Siapa yang tidak ragu jika harus merelakan putra tunggalnya. Begitu pula yang dialami oleh beliau. Enggan dan rasa tak rela pun beliau alami. Sampai mimpi itu terulang untuk yang kedua kalinya. Beliau pun tak juga melaksanakan mimpi tadi, bahkan beliau berprasangka kalau-kalau syaitan yang membisikkan mimpi-mimpi tersebut.
Lalu, datanglah mimpi ketiga. Sama persis dengan mimpi-mimpi beliau sebelumnya. Kali ini barulah beliau yakin, mimpi tersebut merupakan perintah dari Allah, untuk menguji beliau dan Ismail putranya.
Betapa berat hati untuk mengikhlaskan sesuatu yang amat disayanginya. Bayangkan bila kita kehilangan benda-benda yang kita sayangi. Amat berat hati kita untuk mengikhlaskannya. Demikian halnya dengan Nabi Ibrahim. Bahkan, beliau terancam kehilangan anak semata wayang, yang demikian lama beliau dambakan, untuk melanjutkan risalah dakwah.
Beliau sadar imbas pengorbanan itu juga akan dirasa ibu dari Ismail. Hajar, istri keduanya. Jika saja dia mengetahui putranya akan disembelih. Niscaya dia tak akan melepas putranya tersebut. Ibu mana yang tega anaknya disembelih. Sedang, pepatah pun berkata Harimau yang demikian buasnya pun tak akan memakan anaknya sendiri.
Terbayang oleh beliau, kisah dramatis perjuangan seorang Hajar di tengah padang tandus. Tatkala Allah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan Ismail yang belum lama lahir di tanah lapang tanpa tetumbuhan. Pun dengan bekal seadanya yang di tinggalkan ibu dan anak itu berusaha bertahan bermodal tawakal. Pasrah apa adanya, biarlah Allah yang menentukan nasib mereka.
Keadaan menjadi semakin pelik ketika bekal air menipis bahkan habis sama sekali. Ibunda Hajar kebingungan mencarikan air untuk bayinya. Dia berlari ke Shofa, demi melihat kilatan air yang hakikatnya fatamorgana semata. Sesampainya di puncak Shofa, ternyata kilatan air itu hilang dan berpindah di puncak bukit Marwa. Kembali Hajar berlari menuju Marwa, dan demikian seterusnya. Betapa cobaan telah menguji keteguhan mereka berdua. Dan dengan pertolongan Allah mereka bisa melalui ini semua.
Terbayang juga oleh beliau, bagaimana perasaan Sarah. Wanita yang tangguh, menemani perjuangan beliau sejak pertama berdakwah. Setia menemani hingga puluhan tahun. Sabar menanti walau tak kunjung Allah memberikan amanah kepada mereka berdua. Tak henti-hentinya berdoa agar supaya ada penerus dakwah tauhid suaminya kelak.
Hingga akhirnya Allah memberikan jalan keluar. Allah hadirkan Hajar, seorang budak hadiah dari penguasa Mesir. Meski sempat diliputi bimbang, tak rela bila suaminya menduakan cintanya. Tapi karena ketaatan pada Allah, Sarahpun mengiyakan ketika suaminya menikahi Hajar.
Pengorbanannya bertambah ketika ternyata Hajarlah yang mampu menghadirkan putra pertama bagi suaminya tercinta. Meski wajahnya tersenyum, tapi dalam hati rasa irinya tak dapat dipungkiri. Apa kiranya yang akan dikatakan oleh Sarah. Setelah semua pengorbanannya, ternyata anak lelaki Hajar yang sempat membuatnya iri itu harus disembelih? Seakan pergolakan di hatinya selama ini tiada berarti.
Nabi Ibrahim kembali diliputi kebimbangan. Akankah dia sampaikan mimpi yang sudah berulang tiga kali tersebut pada Ismail? Akankah Ismail rela melaksanakannya atau malah menentangnya? Seorang remaja yang beranjak dewasa. Baru saja menikmati kebahagiaan bersama ayahnya setelah sekitar sepuluh tahun berpisah. Andaikan Ismail berkata tidak, beliaupun tak kuasa menolak hal tersebut. Bagaimana tidak. Seorang ayah baru berjumpa kembali setelah perpisahan lama, tidak mungkin dia sanggup menyanggah permintaan putra semata wayangnya.
Terbesit keinginan dalam benaknya untuk meminta penangguhan kepada Allah atas titah-Nya tersebut. Beliau lebih mudah untuk meninggalkan kembali putranya tersebut, tanpa pernah bertatap muka kembali, asal Ismail tetap bisa hidup.
Tetapi segera diusirnya bayangan-bayangan tersebut. Beliau memohon ampunan pada Allah karena telah menduakan kepatuhan kepada-Nya dengan rasa cintanya pada putra tunggalnya. Beliau kuatkan hati, bertekad untuk menyampaikan apa adanya kepada Ismail. Hanya Ismail. Beliau tak ingin menyampaikan hal tersebut pada anggota keluarga yang lain terlebih dahulu.
“Duhai putraku Ismail, dalam mimpiku aku menyaksikan diriku menyembelihmu, dan mimpi itu berulang sama persis hingga tiga kali, aku yakin mimpi ini merupakan perintah dari Allah, bukan bisikan-bisikan menyesatkan dari syaitan.” Demikian ucap Ibrahim kepada putranya. Ismail mendengarkan dengan seksama. Ibrahim kembali melanjutkan perkataannya, “Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ibrahim menyelesaikan perkataannya dengan helaan nafas panjang.
Ismail termenung sejenak. Memikirkan ulang perkataan ayahnya. Di dalam tubuhnya mengalir darah seorang ayah yang shalih, dan ibu yang taat beribadah. Dia pun dibesarkan dalam buaian ketaatan kepada Allah. Tak lama kemudian dengan senyuman dan tatapan yang mantap ia menjawab perkataan ayahnya. “Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
Tanpa terasa mengalir haru air mata Ibrahim. Takjub dan bersyukur atas jawaban Ismail. Serta merta bibirnya melantunkan puji-pujian kepada Allah atas karunia keturunan yang shalih.
Pembaca yang budiman. Andai kita yang berada di posisi Nabi Ibrahim. Mendapati permasalahan yang demikian kalutnya, juga menghajatkan sebuah pengorbanan luar biasa, kiranya sanggupkah kita bertindak yang sama? Merelakan segalanya demi murninya kepatuhan pada Allah ta’ala? Sedang kita ketika menyambut Hari Raya Idul Adha, kerap kali berat hati untuk merelakan sedikit harta kita untuk melaksanakan syari’at udhiyah (berkurban). Nas’alullah ‘afiyah. (Aslam).

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655