Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

Hamzah Bin Abdul Muthalib

Musuh Gentar Mendengar Namanya

Di sebuah rumah yang ada di sekitar Ka’bah, Hamzah dilahirkan dan dibesarkan. Dan di bukit serta lembah Makkah yang terbentang sepanjang mata memandang, ia mulai membuka matanya dan bergelut dengan kehidupannya.
Umur Hamzah diperkirakan tak terpaut jauh dengan Muhammad, yang juga keponakannya itu. Mereka berdua merupakan saudara sesusuan dan teman sepermainan sejak kanak-kanak.
Tak heran jika Hamzah menjadi orang yang paling dekat dan mengenal secara mendalam kepribadian Muhammad. Keduanya memiliki hubungan yang sangat kuat. Meski demikian, sebagaimana Bani Muthalib lainnya, Hamzah memang tidak langsung menerima dan memeluk agama yang diwahyukan kepada Muhammad.
Walaupun dalam lubuk hatinya, ia tak bisa mengingkari keluhuran budi pembawa risalah tersebut. Meski demikian, ia tak memperlihatkan rasa tidak suka terhadap dakwah Muhammad, seperti yang dilakukan orang-orang Quraisy. Bahkan ia selalu memberikan perlindungan terhadap diri Nabi Muhammad. Pada saat kaum kafir memperlihatkan kebencian yang kian meningkat, ia pun meningkatkan perlindungan kepada Muhammad.

Memeluk Islam
Hamzah memiliki fisik yang kuat. Ia pun terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan, ahli pedang, dan bela diri, di seantero Makkah. Hamzah merupakan manusia padang pasir yang lebih suka menyendiri. Ia juga dikenal sebagai seorang pemburu yang pemberani. Pernah, ia menaklukkan seekor singa sendirian dan mengulitinya. Melihat pelana kudanya berlapis kulit singa, penduduk Makkah segan. Lawan-lawannya pun gentar walau sekedar mendengar namanya.
Bahkan ia berani melabrak petinggi Quraisy semacam Abu Jahal. Penyebabnya, Abu Jahal telah memperlakukan keponakannya, Muhammad, secara tak hormat.
Pada suatu hari, Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah Muhammad ketika ia berada di Shafa. Pada saat bertemu muka, ia pun mulai mencaci, memaki dan melampiaskan amarahnya kepada Rasul. Usai menumpahkan segala amarahnya, Abu Jahal bergegas bergabung dalam pertemuan petinggi Quraisy. Tak dinyana, ternyata tindakan Abu Jahal itu diketahui oleh seorang wanita, budak Jud'an bin Amir. Tak lama berselang terlihat Hamzah memasuki Makkah dengan busur di bahunya, usai berburu.
Menjadi kebiasaan Hamzah, setelah berburu ia pergi ke Baitullah untuk berthawaf, sebelum ia kembali ke keluarganya. Setelah melihat Hamzah, budak wanita Jud’an bin Amir menghampirinya dan mengisahkan apa yang dilakukan Abu Jahal kepada Rasulullah.
Amarah menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mendengarkan kisah wanita itu. Bergegas ia mencari Abu Jahal. Ia telah menetapkan niat untuk menghajar dan memberi pelajaran kepada Abu Jahal. Di tempat tak jauh dari Ka’bah, ia melihat Abu Jahal.
Sesampainya di hadapan Abu Jahal, langsung saja Hamzah memukulkan busurnya ke kepala Abu Jahal. Darah segar pun mengucur. Tak hanya itu, ia pun memukul tubuh lawannya hingga babak belur dan tersungkur. Hamzah tetap berdiri gagah di hadapan petinggi Quraisy itu.
Di hadapan mereka ia menyatakan bahwa ia berada di pihak Muhammad. Hamzah pun kemudian memberikan kesaksian bahwa tiada Ilaah selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Pada saat Abu Jahal tersungkur, orang-orang dari suku Makhzumah ingin menolongnya. Namun dicegah Hamzah, mereka pun kembali duduk.
Para petinggi Quraisy saling pandang. Semula mereka akan menentang Hamzah atas perlakuannya terhadap Abu Jahal. Namun mereka pun rupanya takut dan akhirnya kembali duduk. Beberapa saat kemudian ia menendang debu ke arah muka para petinggi Quraisys itu, dan meninggalkan tempat.
Hamzah bertutur tentang dirinya, ”Aku merasa menyesal sekali meningalkan agama nenek moyang dan kaumku. Aku resah dan gelisah, tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Makan tidak nafsu dan tidur pun tidak bisa. Kemudian aku pergi ke Ka’bah; aku memohon kepada Allah supaya dadaku dilapangkan menerima kebenaran dan supaya kegelisahan hatiku disingkirkan. Teryata, Allah mengabulkan doaku itu. Hatiku dipenuhi dengan keimanan dan keyakinan kepada-Nya. Aku terdorong ingin pergi menemui Muhammad seketika itu juga. Aku ceritakan semua yang terjadi. la kemudian mendoakan aku supaya hatiku dikukuhkan dalam agamanya.”
Pembelaan dan pernyataan Hamzah, telah menyadarkan Quraisy bahwa Hamzah yang gagah berani akan selalu membela Muhammad. Tak heran jika kemudian mereka mulai menimbang akibat ketika akan mengganggu Nabi.
Allah memperkuat agamanya dengan masuknya Hamzah ke dalam Islam. Ia berdiri tegar dan siap membela Rasul. Sejak memeluk Islam ia mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk kemajuan Islam. Sehingga Rasulullah memberinya gelar Asad Allah wa Asad Rasulih (Singa Allah dan Rasul-Nya).

Perang Badr
Pada saat pasukan Muslim bertemu dengan pasukan Kafir Quraisy di Perang Badr, Hamzah betul-betul memperlihatkan keberanian dan kecakapan perang yang luar biasa. Banyak orang kafir Quraisy tumbang di tangannya. Bahkan anak dan ayah Hindun, yang juga petinggi Quraisy, mati di ujung pedangnya.
Orang-orang kafir mundur dengan teratur. Tak heran jika kekalahan ini menumbuhkan dendan kesumat di dada mereka. Hamzah pun dianggap memiliki peran besar dalam kekalahan mereka. Mereka merencanakan perang pembalasan.
Sebelum mereka ke medan perang, mereka mendelegasikan tugas khusus membunuh Hamzah kepada seorang budak Habsyi, Wahsyi namanya. la mendapat latihan khusus dalam melempar tombak. Kalau Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, ia dijanjikan akan merdeka dari perbudakan. Hindun pun turut memberi pengarahan secara khusus kepada Wahsyi.

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655