Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

Hikmah Hari Raya Idul Adha

Pada hari raya Idul Adha, jutaan jamaah haji di Tanah Suci telah berada di Mina setelah sehari sebelumnya melakukan wukuf di Arafah. Pada hari itu, kaum muslim melakukan shalat Idul Adha, kemudian menyembelih hewan kurban. Hari raya Idul Adha mengingatkan kita akan kisah Nabi Ibrahim p yang diperintah Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail p, sebagaimana yang tersebut dalam Al-Qur’an surat Ash-Shâffât ayat 102-107.
Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim dalam tidurnya bermimpi menyembelih anaknya sendiri. Mimpi tersebut merupakan wahyu dari Allah yang memerintahkan untuk menyembelih anaknya. Perintah itu pun beliau sampaikan kepada Ismail dan meminta pendapatnya. Tanpa ragu-ragu Ismail meminta sang Ayah melaksanakan perintah tersebut.
Terjadilah peristiwa yang sama sekali tidak dapat diterima akal. Sang ayah bersama anaknya keluar dari rumah menuju tempat penyembelihan. Dalam perjalanan, keduanya dirayu syaitan agar mengurungkan niatnya itu, akan tetapi keduanya tidak menghiraukan dan bahkan melemparinya.
Kisah kedua orang yang berhati teguh itu kemudian mencapai titik puncak saat sang ayah telah siap menyembelih dan sang anak telah siap disembelih. Ketika mata pisau diletakkan di leher sang anak, maka pada detik yang amat kritis itu, Allah mengganti tubuh Ismail dengan seekor kibasy yang besar, sehingga sang anak luput dari penyembelihan. Kedua insan itu dinilai telah melaksanakan perintah-Nya dengan sepenuh hati sehingga pantas diberi imbalan.
Kisah itu sudah sering kita dengar, hikmah apa di balik peristiwa itu? Paling tidak, ada tiga hal. Pelajaran pertama, sebagai seorang mengaku beriman, kita tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa diuji oleh Allah. Nabi pun tidak luput dari ujian itu, suatu ujian yang amat berat.
Ujian dari Allah ada dua macam, yaitu berupa nikmat dan berupa musibah. Ujian berupa nikmat antara lain sebagaimana dalam ayat, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat untuk menguji tentang apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Sesungguhnya Rabb-mu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-An’am: 165).
Apa yang diberikan Allah kepada kita disebut nikmat, dan alangkah banyaknya nikmat itu sehingga tidak terhitung jumlahnya, seperti kekayaan, keturunan, kekuasaan, kesehatan, kepintaran dan sebagainya. Seseorang dikatakan lulus ujian bila ia mensyukuri nikmat-Nya itu dengan cara menggunakannya sesuai dengan kehendak-Nya. Sebaliknya seseorang disebut gagal ujian bila ia menggunakan nikmat dari Allah untuk bermaksiat kepada-Nya. Berarti orang itu sudah kufur nikmat.
Maka tergolong kufur nikmat orang yang menggunakan kekayaannya untuk berbuat durhaka kepada Allah, atau berlaku tidak adil dalam menggunakan kekuasaan yang dimiliki, atau menggunakan kepintaran untuk menipu dan membodohi orang lain, dan sebagainya. Cepat atau lambat ia kan menerima siksaan Allah sebagaimana yang ditegaskan-Nya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya akan Aku tambah (nikmat-Ku) untukmu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) azab-Ku amatlah pedih.” (Ibrahim: 7).
Tidak jarang azab itu diperlihatkan di dunia dalam pelbagai bentuk. Sikap anak yang seharusnya menghormati kita namun justru melecehkan kita, itu juga bentuk siksaan. Bila harta dan kekuasaan yang seharusnya membahagiakan kita malah membuat kita tidak tenteram, tidakkah itu suatu azab?
Sikap yang begitu indah terhadap nikmat Allah telah dicontohkan Nabi Sulaiman. Setiap kali menerima nikmat Allah beliau berkata, “Ini karunia dari Rabb-ku, untuk menguji apakah aku akan bersyukur atau kufur.”
Selain berbentuk nikmat, ujian juga bisa berupa musibah, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155).
Ujian jenis kedua menuntut kita untuk bersabar. Sabar bukan hanya berarti tabah dalam menghadapi kesulitan tetapi juga dituntut untuk berusaha keluar dari kesulitan itu dengan disertai doa. Jadi, sikap menyerah pada nasib tanpa berusaha membebaskan diri jeratan masalah, bukanlah sikap orang sabar.
Pelajaran kedua, kisah tersebut mengajarkan agar kita ikhlas dalam beribadah, artinya semata-mata mengharapkan ridha Allah l, tidak dicampuri oleh motivasi lain. Niat yang ikhlas itulah yang mendorong Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anak sendiri dan Allah mengembalikan kepada sang pemilik nikmat yang nyaris luput darinya itu.
Beribadah secara ikhlas itu tidaklah mudah karena manusia rawan tergoda oleh motivasi lain seperti tergambar dari sebuah hadits populer mengenai hijrah, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan yang diniatkannya”. Lanjutan Hadits ini menyebutkan tentang orang yang hijrah karena mengejar harta (dunia) atau mengincar wanita. Mereka akan memperoleh apa yang dikejar, tetapi tidak akan mendapat pahala hijrah.
Demikianlah pula dengan kita ketika melakukan ibadah. Bila kita berinfaq dengan niat agar dilihat orang (riya’) atau agar mendapat nama baik dengan memperdengarkannya (sum’ah) maka kita mungkin mendapat pujian dan nama baik itu, tetapi tidak mendapat imbalan dari Allah. Infaq yang didasari riya’ ibarat debu di atas batu yang licin. Sedikit saja ditimpa hujan rintik-rintik, ia akan lenyap tanpa bekas, begitu Al-Qur’an membuat permisalan.
Begitu besar mudharat riya’ dan sum’ah itu sampai-sampai Nabi Muhammad n sebelum melaksanakan ibadah haji berdoa, “Ya Allah, berilah aku kemampuan melakukan ibadah haji tanpa riya’ dan tanpa sum’ah.” Nabi saja tetap waspada dengan kedua sifat tercela itu, apalagi kita.
Pelajaran ketiga berkaitan dengan hubungan antara ayah dan anak. Ketika Nabi Ibrahim memberitahukan kepada Ismail tentang penyembelihan itu, sang anak pasrah, tanpa memperlihatkan sikap penolakan sama sekali. Ini terjadi karena sang anak sangat paham terhadap perkara sebagaimana yang terdapat dalam ayat yang berbunyi, “Dan sembahlah Allah, jangan persekutukan Dia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu.” (An-Nisa’: 36).
Berbuat baik kepada orang tua dalam ayat ini disandingkan penyebutannya dengan beribadah kepada Allah, suatu indikasi betapa Allah meninggikan kedudukan orang tua di dalam keluarga. Sebab orang tualah yang berperan membentuk anak-anak berkepribadian muslim, yaitu anak-anak yang bertaqwa dan berbakti kepada Allah, yang kita sebut anak shalih. Nabi Ibrahim berhasil membentuk anak yang shalih itu, terbukti dengan kepasrahan anaknya untuk disembelih sebagai pemenuhan perintah Allah.
Hari ini, tidak sedikit orang tua yang gagal mencetak generasi yang shalih. Terdapat anak-anak yang kurang menghormati orang tua bahkan ada yang tega membunuhnya. Terdapat kaum remaja yang terlibat tindak pidana kejahatan, pencurian kendaraan bermotor, misalnya. Sekitar sepuluh tahun lalu, di Jakarta, 70% pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa. Kini obat terlarang itu sudah masuk ke desa-desa dan bahkan pesantren. Berita lain yang sangat mengejutkan adalah berita mengenai 50.000 anak-anak perempuan di bawah usia 16 tahun yang terlibat dunia pelacuran.
Kita seharusnya tidak hanya menyalahkan perilaku mereka, akan tetapi kita juga perlu mawas diri, sebab mereka pertama-tama adalah produk dari lingkungan keluarga, baru kemudian lingkungan sosialnya. Maka perlu dipertanyakan apakah kita sudah berupaya membentuk keluarga yang harmonis, saling menghargai dan memahami posisi masing-masing anggota keluarga? Apakah kita melakukan komunikasi dengan anak-anak untuk mengetahui masalah mereka dan mendiskusikan solusinya?
Oleh tuntutan pekerjaan, sebagian kita, merasa tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan mereka. Akibatnya, hubungan antara orang tua dan anak-anak menjadi kurang akrab. Situasi seperti itu membuat mereka mencari pelarian di luar rumah dengan segala dampak yang ditimbulkannya. Terdapat pula keluarga-keluarga kaya yang mewujudkan kasih sayang kepada anak dengan memberinya uang saku yang berlebihan. Ini mendorong mereka untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan.
Selanjutnya, pada era modern ini, ketika kaum perempuan bisa berkiprah dalam berbagai aspek kehidupan, mereka tetap tidak boleh melupakan kodratnya sebagai ibu. Secara psikologis, kaum ibu lebih dekat dengan anaknya karena dialah yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan mereka. Suatu beban yang amat berat. Oleh karena itulah Nabi memberikan penghargaan yang tinggi kepada kaum ibu dengan mengatakan bahwa surga terletak di bawah telapak kaum ibu, dan bahwa seorang anak berbuat baik lebih dulu kepada ibu, kemudian ibu, kemudian ibu, sampai tiga kali, baru kemudian kepada ayah.

Refleksi
Seperti tahun-tahun lalu Idul Adha kali ini dirayakan oleh sebagian kaum Muslim dalam suasana prihatin. Puluhan juta orang menganggur dan puluhan juta orang pula hidup di bawah garis kemiskinan. Karena desakan ekonomi seseorang bisa terdorong melakukan berbagai tindak kejahatan. Mengapa terjadi demikian? Lemahnya penegakan hukum bisa menjadi penyebab timbulnya kondisi ini. Sebuah hadits menyebutkan:
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوْا عَلَيْهِ الْحَدُّ وَاَيَّمَ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا ( متفق عليه )
“Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kami adalah bila yang mencuri orang besar, hukum diabaikan. Bila yang mencuri orang kecil, hukum ditegakkan. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri akan aku potong tangannya.” (Mutafaqun ‘alaihi).
Berdasarkan ilmu yang diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi, beliau mengetahui apa yang telah dan bakal terjadi. Mengenai masa lalu beliau mengungkapkan bahwa kebinasaan umat terdahulu disebabkan karena tidak tegaknya hukum segera berkeadilan. Khalifah Ali bin Abi Thalib begitu terobsesi oleh keadilan ini sampai-sampai khalifah keempat itu berkata, “Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir, dan tidak akan menegakkan negeri yang tidak adil meskipun Islam.” Lantas bagaimana yang terjadi di Indonesia? Silakan pembaca menyimpulkan. Wallahu a’lam bish shawab.

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655