Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

Pegadaian dalam Perspektif Fiqih Islam (Bagian 1)

Hari ini, lembaga-lembaga pegadaian sudah menjamur di tengah-tengah kita, termasuk yang paling terkenal ialah Perum Pegadaian, “menyelesaikan masalah tanpa masalah”, demikian mottonya yang mungkin sudah cukup akrab di telinga kita. Tidak sedikit umat Islam yang memanfaatkannya. Hal ini dikarenakan lembaga-lembaga pegadaian ditinjau dari segi kemudahan lebih mudah dan prosedurnya lebih cepat dibandingkan lembaga-lembaga perbankan. Pegadaian (nasabah) tinggal membawa barang yang cukup berharga, kemudian ditaksir nilai dan harganya, maka duitpun cair. Praktis, sehingga sangat menguntungkan bagi mereka yang membutuhkan dana cepat.
            Di dalam Islam, pegadaian merupakan muamalah yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya, jika terpenuhi syarat, rukun, dan hukum-hukumnya. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit kaum muslim yang terjerumus pada praktik-praktik pegadaian yang tidak dibenarkan oleh Islam, dikarenakan tidak terpenuhinya syarat, rukun, atau disebabkan terjatuhnya tansaksi pegadaian tersebut ke dalam praktik ribawi yang diharamkan oleh Islam. Ketidaktahuan kaum muslimin terhadap hukum-hukum yang berkaitan dengan pegadaian, menyebabkan banyak dari mereka yang melakukan transaksi pegadaian ribawi yang jelas-jelas haram hukumnya, apalagi lembaga-lembaga pegadaian konvensional seringkali menyatakan bahwa lembaga-lembaga pegadaian yang mereka kelola akan menyelesaikan masalah, atau juga tidak sedikit praktik pegadaian ini dilakukan oleh individu-individu kaum muslim, bahkan ada di antara mereka yang mencari-cari orang yang ingin menggadaikan barangnya dengan sejumlah uang tertentu, dikarenakan orang yang meminjamkan hutangnya ingin memanfaatkan barang gadaian yang digadaikan. Untuk itu, kajian berkenaan dengan pegadaian ini sangat penting bagi kita, dan mudah-mudahan apa yang kami tulis dalam makalah ini dapat bermanfaat.

            Definisi Gadai
            Dalam fiqih Islam gadai disebut dengan istilah ar-rahn (gadai) yang berarti ats-tsubutu wad dawaamu (tetap dan terus-menerus). (Silahkan lihat kitab Al-Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Mua’shirah, Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaily, hal. 82). Sehingga air yang diam dan tidak mengalir disebut dengan ‘maa`un raahin’. Pengertian secara bahasa tentang istilah ar-rahnu ini juga terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al-Mudatstsir: 38:
            كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌ
             “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”
            Adapun pengertian gadai (ar-rahn) menurut istilah fiqih Islam adalah:
“Menyimpan sementara harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diberikan oleh berpiutang (yang meminjamkan).”
Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaily –hafizhahullah- berkata, “Yang dimaksud dengan gadai (ar-rahn) adalah menyimpan atau menahan barang seseorang sebagai jaminan atas pinjaman (hutang) yang dilakukannya sehingga dia bisa bebas memanfaatkan pinjaman/hutang tersebut dengan jaminan harta yang telah digadaikannya.”
Dengan ini bisa kita ketahui bahwa barang yang dititipkan oleh pegadai kepada si piutang dapat diambil kembali dalam jangka waktu tertentu setelah si pegadai mengembalikan seluruh hutangnya kepada si piutang.

Disyari’atkannya Pegadaian (Ar-Rahnu)
Menggadaikan barang tertentu yang berharga sebagai jaminan atas pinjaman atau hutang yang miliki adalah perkara yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Allah l berfirman, “Jika kalian dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai), sementara kalian tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al-Baqarah: 283)
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan barang tanggungan yang dipegang oleh yang berpiutang. Dalam dunia financial, barang tanggungan biasa dikenal sebagai objek gadai atau jaminan (kolateral) dalam dunia perbankan.
Ibunda ‘Aisyah h pernah menuturkan, “Rasulullah n pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo (kredit) dan beliau menggadaikan baju besinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Shahabat Anas bin Malik a juga menceritakan, “Sesungguhnya Nabi n pernah mengadaikan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, sementara beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga beliau.” (HR. Al-Bukhari).

Apakah gadai hanya diperbolehkan ketika safar?
Ar-Rahn boleh dilakukan baik ketika safar maupun mukim. Firman Allah, ‘in kuntum ‘alâ safarin’ (jika kalian dalam keadaan safar), bukanlah pembatas, tetapi sekadar penjelasan tentang kondisi. Riwayat Aisyah dan Anas di atas jelas menunjukkan bahwa Nabi n melakukan ar-rahn di Madinah dan beliau tidak dalam kondisi safar, tetapi sedang mukim. (QS. Al-Baqarah ayat 283 menjelaskan bahwa dalam muamalah tidak secara tunai ketika safar dan tidak terdapat penulis untuk menuliskan transaksi itu maka ar-rahn dalam kondisi itu hukumnya sunnah. Dalam kondisi mukim hukumnya mubah. Lihat: Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah, Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah al-Baqarah), hlm. 437-438, Dar al-Ummah, Beirut, cet. ii (mudaqqiqah). 2006.)
Imam Al-Qurthubi –rahimahullah- mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang melarang Ar- Rahn pada keadaan tidak safar, kecuali Mujahid, Adh-Dhahak dan Dawud (Azh-Zhahiri). (Lihat: AbhatsHai'at Kibar Ulama 6/107). Demikian juga Ibnu Hazm.
Adapun Ibnu Qudamah –rahimahullah-, beliau mengatakan, “Diperbolehkan Ar-Rahn dalam keadaan tidak safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar (bepergian).” Wallahu A’lamu bish Shawab.

Bersambung insya Allah…

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655