Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

KECENDERUNGAN “NAKAL” PADA ANAK

Sebenarnya, setiap anak dilahirkan dalam fitrah mereka, hati mereka cenderung kepada kebaikan. Begitu pula dengan anak kita. Sehingga, ketika mereka belum bisa menunjukkan perilaku baik mereka, bukan berarti anak kita itu nakal atau jahat. Sebenarnya, yang mereka perlukan ialah bimbingan yang bijak dan terus menerus (mudawwamah), sehingga menjadi tuntutan kita untuk mempelajari bagaimana mendidik dengan benar.
Rasulullah n pernah ditanya tentang bagaimana cara orang tua membantu anaknya. Beliau menjawab, “Dia menerima yang sedikit dari (anak) nya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya, tidak pula memakinya.” Dari hadits yang diriwayatkan Abu Abdillah tersebut memberikan pengertian bahwa ada empat prinsip orang tua dalam menghadapi anaknya, yakni menerima anak apa adanya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya dengan target-target dan keinginan kita, serta tidak memaki atau memberi panggilan yang buruk kepada anak, betapapun mereka menjengkelkan hati kita.
Biasanya, yang tampak dalam perilaku mereka ialah keaktifan yang kita anggap sebagai perbuatan yang sudah keterlaluan, seperti memukul dedaunan tanaman hias, mencorat-coret tembok, dan menyobek-nyobek buku, maka harus kita pahami bahwa mereka tidak sedang merusak tanaman atau yang lain, tetapi mereka sedang belajar tentang sesuatu yang belum bisa mereka bahasakan dengan bahasa lisan. Orang tua yang belum bisa memahami bahasa mereka pun tak jarang yang akhirnya memberikan label nakal kepada anak tersebut.
Perilaku yang tidak pas menurut pandangan orang tua itulah yang acapkali mendatangkan kejengkelan. Bahkan, tak segan-segan orang tua membentak anaknya dengan melabeli mereka dengan kata nakal. Jika predikat ini sudah disandang sang anak, maka betapa kasihannya ia, di manapun ia berada, ia selalu merasa bahwa ia adalah anak yang nakal.
Apabila label tersebut sudah melekat pada diri sang anak, maka rasanya sangat sulit sekali mengembalikan kepada sifat semula, bahwa “saya adalah anak yang baik”. Seakan kebaikan-kebaikannya sudah terkubur dalam-dalam dan sulit untuk menemukannya lagi. Tentunya kita tidak ingin demikian bukan?
Memang, seorang anak berubah menjadi susah diatur saat mendekati umur dua tahun. Pada usia itu dikenal dengan istilah "terrible twos" karena umumnya anak-anak yang mendekati dua tahun mulai banyak berulah, seperti sering marah dan melawan orang tua. Bila anak Anda mengalami hal demikian, Anda tidak perlu khawatir karena ini bukan tanda seorang anak menjadi nakal, tetapi merupakan bagian dari perkembangan diri yang wajar pada anak. Dengan melawan, mereka menyatakan bahwa mereka percaya diri dan memiliki kendali dari kegiatan yang terjadi di sekitar mereka. Sikap ini akan berakhir setelah menginjak usia 3,5 tahun, sang anak menunjukkan pengendalian emosi yang lebih baik.
Meski begitu, kita jangan pula menganggap sebaliknya, bukan berarti anak yang mudah diatur menjadi tidak baik perkembangannya. Studi menemukan bahwa para ibu yang bersikap sensitif dan positif seringkali memiliki anak yang mudah menuruti permintaan mereka.
Dalam sebuah penelitian yang terangkum dalam Jurnal Child Development, mencatat tentang interaksi yang didapat dengan merekam 119 orang ibu dan anak-anak mereka yang berusia satu hingga dua tahun. Sementara anak-anak bermain, ibu berinteraksi seperti biasa di dalam kehidupan sehari-hari. Setelah beberapa waktu, para ibu diminta untuk menyuruh anak-anak mereka membereskan mainan mereka. Ketika para periset menganalisis rekaman, mereka menemukan bahwa banyak di antara para ibu yang bersikap positif selama waktu bermain, seperti memberikan pujian dan membiarkan anak memimpin permainan, lantas anak mereka menurut untuk membereskan mainannya.
"Memberikan pujian membuat anak lebih menurut akan perintah yang diberikan orang tua. Sedangkan kemarahan akan membuat anak melawan," kata Ketua Periset, Edward Sebastian.
Walaupun sikap melawan seorang anak merupakan bagian dari perkembangan normalnya, bukan berarti orang tua dapat membiarkannya begitu saja. Seorang anak harus dapat mengendalikan emosi, dengan melihat contoh sikap sabar dari orang tuanya. "Itu berarti orang tua harus lebih sering memberikan pujian kepada anak. Karena kenakalan anak-anak sebenarnya wajar seiring munculnya rasa ingin tahu mereka," kata dia.
Jadi kesimpulannya ialah: Sifat yang terlihat nakal pada sang anak merupakan proses belajar mereka, hanya saja memakai bahasa mereka sendiri. Sifat nakal tidaklah melekat pada diri mereka, sifat itu hanya ada di dalam pandangan orang tua yang belum memahami bahasa anak sehingga di mata orang tua sang anak tampak nakal, padahal sebenarnya mereka tetap menjadi anak yang baik. Oleh karena itu, orang tua harus bisa memahami bahwa anak adalah sebagai subjek yang selalu belajar. Demikian semoga menjadi bahan perenungan bagi kita semua. (hs).

Bahan Bacaan:
Dr. Zulaeha Hidayati. Anak Saya Tidak Nakal, Kok. Jogjakarta: Bentang Pustaka. 2010
Wahyudin. Menuju Kreativitas. Jakarta: Gema Insani Press. 2003.
www.cuplik.com. Menghadapi Kenakalan Anak dengan Pujian.

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655