Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

SANTUNI YATIM LUNAKKAN HATI

Saudara pembaca yang dirahmati Allah, Rasulullah n pernah bersabda dalam haditsnya yang mulia, “Sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah, ketika segumpal darah tersebut baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan ketika segumpal darah itu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah qalbu. (HR. Bukhori Muslim).
Hati Dapat Mengeras
Saudara pembaca yang dirahmati Allah, sesungguhnya, hati dapat mengeras melebihi kerasnya batu. Allah l berfirman, ''Kemudian setelah itu hati kalian mengeras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya, di antaranya lagi ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah sama sekali tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.'' (QS. Al-Baqarah: 74).
Menurut Ibn Abbas, ayat tersebut turun berkaitan dengan sikap Bani Israil yang keras kepala dan keras hati. Dalam memaknai ayat tersebut Al-Qurtubi menyatakan hati manusia bisa mengeras melebihi kerasnya batu karena keringnya hati dari inabah (kembali ke jalan Allah), zikir, dan tadabbur (merenungi) ayat-ayat Allah, baik yang ada dalam Al-Qur’an maupun alam raya.
Saudara yang dirahmati Allah, kekerasan hati itu sangat berbahaya karena tidak hanya membutakan akal pikiran dan memperturutkan hawa nafsu, tetapi juga mendangkalkan akidah, bahkan menyesatkan diri dari petunjuk Allah. ''Kecelakaan besarlah orang-orang yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.'' (QS Al-Zumar: 22).
Salah Satu Cara Melunakkan Hati
Rasulullah n telah memberikan gambaran bagaimana agar hati kita bisa menjadi lunak sehingga mudah menerima segala ketentuan dari-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau bersabda:
إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِينَ قَلْبِكَ؛ فَأَطْعِمْ الْمِسْكِيْنَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيْمِ
Jika engkau menginginkan hatimu menjadi lunak, berilah makan orang miskin serta usaplah kepala anak yatim. (HR. Ahmad dalam musnadnya 2/263. Hadits hasan dalam Silsilah Shahihah Al-Albany 2/533).
Seorang yang memberikan makan kepada fakir miskin berarti dia telah menunjukkan rasa empatinya. Dia sudah ikut mencoba merasakan kesedihan yang dialami oleh fakir miskin, dia juga menempatkan posisi seakan-akan ia berada di tengah-tengah fakir miskin sehingga benar-benar merasakan kondisi yang mereka alami. Pada saat itulah muncul rasa syukur yang amat mendalam di dalam lubuk sanubarinya. Ia akan bersyukur kepada Allah atas karunia yang telah ia terima selama ini, yang ternyata tidak dirasakan oleh fakir miskin yang ia santuni. Dengan demikian menjadi lunaklah hatinya.
Demikian pula dengan orang yang senang menyantuni anak yatim. Dengan membelai kepala anak yatim, getaran kasih sayang seseorang kepada anak yatim itu akan masuk dan membelai hatinya sendiri. Ia akan merasakan betapa belaian itu amat dibutuhkan oleh anak yatim yang telah sekian lama haus akan lindungan sang ayah atau kelembutan sang ibu. Orang yang membelai rambut anak yatim dengan kasih sayang akan bergetarlah hatinya, yang terkadang disertai air mata yang mengalir tak tertahankan. Demikianlah, orang tersebut juga akan merasakan betapa besar karunia Allah yang telah diberikan kepadanya. Yang kemudian menggerakkan hatinya untuk memberikan sebagian hartanya kepada anak yatim.
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah n juga memberikan gambaran imbalan bagi orang yang senang menyantuni anak yatim, dalam sabda beliau:
عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاء رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ يَشْكُوْ قِسْوَةَ قَلْبِهِ قَالَ أَتُحِبُّ أَنْ يَلِيْنَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتَكَ اِرْحَمِ الْيَتِيْمِ وَامْسَحْ رَأْسَهُ وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنَ قَلْبَكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتَكَ )رواه الطبراني .تحقيق الألباني (صحيح) انظر حديث رقم: 80 في صحيح الجامع (
Diriwayatkan dari Abu Darda’ a bahwa seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah n mengadukan hatinya yang keras, maka beliau bersabda, “Apakah kamu suka jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhamu terpenuhi.” (HR. Ath-Thabrani. Hadits shahih dalam Shahih Jami’ush Shaghir Al-Albany hal. 80).
Hadits tersebut memberi petunjuk bahwa salah satu sarana untuk menenangkan batin dan mendamaikan hati ini ialah dengan menyayangi anak yatim. Mengusap kepala mereka dan memberi makan minum kepada mereka, ini merupakan bentuk nyata kepedulian dan perhatian terhadap anak yatim.
Kasih sayang dan bantuan yang diberikan kepada mereka bukan hanya akan memenuhi kebutuhan harian mereka secara fisik, tetapi juga akan merasuk ke dalam perasaan mereka, bahwa masih banyak orang yang mengasihi dan menyayangi mereka, sehingga tenteramlah hati mereka.
Berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits banyak membicarakan betapa mulianya kedudukan anak yatim di hadapan Allah l. Di dalam surat Ad-Dhuha ayat 9, Allah l melarang untuk melakukan kekerasan kepada anak yatim. Firman Allah, ''Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.'' Anak yang ditinggal mati oleh orangtuanya, mendambakan belaian dan kasih sayang dari orang lain. Baik keluarga terdekat maupun dari yang lainnya. Ia mengharapkan tumpuan kasih sayang dan sebaliknya juga sekaligus menjaga sumber kasih dan ketenangan itu. Orang yang menenangkan hati dan perasaan anak yatim, ia pun akan memperoleh balasan seperti itu pula, yakni ketenangan batin.
Sumber Ketenangan Batin
Mengasihi anak yatim merupakan sumber ketenangan batin, mengasihi dan berbuat baik kepadanya akan menenangkan hati. Sebaliknya, jikalau anak yatim disakiti dan dizalimi, maka Allah l akan menurunkan kesengsaraan hidup kepada mereka yang berbuat sewenang-wenang itu.
Allah l telah menjelaskan dalam surat Al-Baqarah: 177 dan Al-Balad: 8 bahwa berbuat baik kepada anak yatim adalah salah satu tanda orang yang beriman, bertakwa, dan orang-orang yang baik (al-abrar). Maka, mari kita lihat seberapa besarkah keimanan kita dengan melihat seberapa besar kasih sayang kita kepada mereka. Kita sendirilah yang bisa mengukurnya, bukan orang lain.
Bahkan problem sosial akan muncul manakala terdapat empat sebab: tidak memuliakan anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, memakan warisan (kekayaan) alam dengan rakus, dan mencintai harta benda secara berlebihan. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Fajar: 15-20. Termasuk pembagian harta warisan, diperintahkan agar sebagian diberikan kepada karabat, anak yatim, dan orang miskin, dan orang miskin yang tidak mempunyai hak waris. Sebagaimana dalam surat An-Nisaa’: 8.
Demikianlah, betapa sebenarnya justru kita sangat butuh mereka untuk melunakkan hati kita dan sebagai ladang amal bagi kita. Seandainya kita memberi, maka sudah sepantasnyalah karena itu merupakan kewajiban bagi kita. Kita hanyalah sebagai perantara, karena sesungguhnya hak mereka sebagiannya ada di dalam harta kita. Wallahu a'lam bish-shawab. (adfan)

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655