Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

Ya Allah, Ternyata Hanya Secuil yang Mampu Aku Berikan

Suatu ketika Rasulullah n mengacungkan dua buah jarinya, telunjuk dan jari tengahnya. Kemudian beliau berkata, “Aku dan orang yang menanggung hidup anak yatim kelak akan sedekat ini di Jannah.
Peristiwa ini banyak memotivasi para sahabat untuk memperhatikan nasib anak yatim. Bagaimana tidak, tawaran yang amat menggiurkan. Berdiri bersanding dengan orang yang kita cintai dan kita dambakan kehadirannya. Orang yang amat berjasa bagi kita, memperjuangkan eksistensi Islam hingga mampu bertahan hingga saat ini. Siapa yang tidak ingin?
Berangkat dari peristiwa inilah dan beberapa peristiwa lainnya yang sama-sama menunjukkan keagungan orang yang memuliakan anak yatim, banyak orang yang mulai membangun rumah-rumah yatim. Yang ditempat itu anak yatim dikumpulkan, dijamin makanannya, dibiayai kebutuhan hidupnya. Di tempat itu pula, terkadang mereka mendapat asupan ruhani, baik berupa pelajaran Islam, maupun sekadar diajari membaca Al-Qur’an.
Dari kisah di atas pula, banyak orang yang berlomba-lomba untuk menyantuni anak yatim, entah melalui wasilah apa saja. Mungkin di antara kita ketika ada kelebihan harta, ada yang bersegera untuk menitipkan kelebihan itu kepada rumah yatim yang ada di sekitar kita. Harapan kita, dengan harta tadi kebahagiaan yang kita rasakan bisa terbagi kepada mereka juga.
Yang disayangkan ialah mengapa kita hanya memperhatikan mereka ketika ada kelebihan saja. Layaknya bersedekah, kitapun seharusnya menyantuni mereka dalam keadaan lapang maupun sempit. Sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar, putra dari Khalifah kedua. Setiap kali dia makan, entah dengan lauk apapun, selalu saja dia memanggil anak-anak yatim untuk berbagi makanan. Diriwayatkan, baik dalam keadaan berlimpah makanan, maupun dengan lauk ala kadarnya dia selalu mengajak serta anak-anak yatim dan orang-orang miskin turut serta makan di rumahnya. Dia melakukannya demi mengharap bisa bersanding di sisi Rasulullah di Jannah kelak. Lalu di manakah posisi kita dibandingkan dengannya?
Ada pula yang datang berbondong ke rumah-rumah yatim, untuk memberikan sumbangan kepada mereka. Sumbangan dari banyak orang yang dikumpulkan dengan susah payah. Sumbangan yang terkadang kita ambilkan dari recehan-recehan yang kita cari di pojok-pojok tas kita. Sumbangan yang amat anti kita ambilkan dari segepok uang seratus ribuan kita. Sumbangan terkadang setengah hati kita keluarkan, padahal dengannya kita ingin bersanding dengan Rasul-Nya. Lalu di manakah posisi kita dibandingkan dengannya?
Pada suatu ketika, Rasulullah pernah bercerita, Aku dan seorang wanita yang pipinya kempot dan wajahnya pucat bersama-sama pada hari kiamat seperti ini (Nabi n menunjuk jari telunjuk dan jari tengah). Wanita itu ditinggal wafat suaminya dan tidak mau kawin lagi. Dia seorang yang berkedudukan terhormat dan cantik namun dia mengurung dirinya untuk menekuni asuhan anak-anaknya yang yatim sampai mereka kawin (berkeluarga dan berumah tangga) atau mereka wafat.
Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud. Kisah yang amat menarik jika kita mau mencermatinya. Seorang wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya. Umurnya masih muda ketika itu, dia pun berasal dari keluarga yang terhormat. Parasnya cantik. Masih banyak lelaki yang mau menyunting dia menjadi istri mereka.
Akan tetapi, demi mendapat predikat penanggung hidup anak yatim, dia merelakan diri untuk berjuang hidup sendiri, membiayai kehidupan anak-anaknya yang kini berstatus yatim. Dia rela bersusah-susah hidup dari hasil usaha tangannya sendiri, hingga peot pipinya dan ketuaan menghampirinya. Harapannya satu, agar dia kelak bisa bersanding dengan Rasulullah di Jannah sana. Bersanding bak jari telunjuk dan jari tengah yang bersisian.
Pembaca yang budiman, kalau menilik banyak contoh di atas, membandingkan apa yang kita lakukan dan apa yang para pendahulu kita contohkan. Sungguh akan nampak jelas, jarak antara tingkat kesungguhan kita dan mereka.
Bandingkan dengan diri kita, yang hanya sekejap saja teringat akan nasib mereka. Terkadang berat hati, hanya sekadar mengusap kepala mereka, dan memberi mereka seulas senyuman. Marilah sebentar kita tengok dalam diri kita, bandingkan waktu yang kita luangkan untuk mereka dengan waktu yang kita hamburkan untuk kegiatan tidak bermanfaat, uang yang kita sisihkan untuk anak-anak yatim dengan uang yang kita habiskan untuk mentraktir teman sejawat kita.
Kadang, banyak orang yang sudah merasa bangga bisa menyantuni banyak anak yatim. Banyak pula yang merasa bangga dengan sudah memelihara beberapa anak yatim di rumahnya. Coba kita tengok dengan ketulusan hati, seberapa besarkah kita berkorban untuk mereka. Lalu, apa dengan pengorbanan sekecil itukah kita berharap akan bersanding dengan Rasul-Nya di Surga sana? (Aslm).rw

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655