Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

Rinduku Padamu Ya Rasulullah

Di dunia ini pernah ada, sosok manusia luar biasa. Pribadi anggun memikat yang sarat akhlaq mulia yang sulit terbayangkan. Paras mukanya manis dan indah, Perawakannya sedang, tidak terlampau tinggi, juga tidak pendek, berambut amat hitam, antara keriting dan lurus. Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung lebat dan bertaut, sepasang matanya lebar dan hitam, di tepi-tepi putih matanya agak ke merah-merahan, tampak lebih menarik dan kuat.
Pandangan matanya tajam, dengan bulu mata yang hitam pekat. Hidungnya halus dan merata dengan barisan gigi yang bercelah-celah. Leher panjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahunya bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kakinya tebal.
Bila berjalan badannya agak condong ke depan. Langkahnya cepat dan pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan sarat berpikir, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan, membuat orang patuh kepadanya.
Sifatnya yang sangat rendah hati amat terlihat. Bila ada yang mengajaknya bicara  ia mendengarkan dengan hati-hati tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak saja mendengarkan kepada yang mengajaknya bicara, bahkan ia rnemutarkan seluruh badannya. Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak ia mendengarkan.
Bila bicara selalu bersungguh-sungguh dan sesekali ada humor indah yang penuh makna dan pelajaran, serta yang dikatakannya selalu yang sebenarnya. Kadang ia tertawa sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah tidak pernah sampai  tampak kemarahannya, hanya antara kedua keningnya tampak sedikit berkeringat karena menahan rasa amarah dan tidak mau menampakkannya.
Semua itu terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada, berkemauan baik dan menghargai orang lain. Dia sangat bijaksana, murah hati dan mudah bergaul. Tapi juga ia mempunyai tujuan pasti, berkemauan keras, tegas dan tak pernah ragu-ragu dalam tujuannya.
Sifat-sifat demikian ini berpadu dalam dirinya dan meninggalkan pengaruh yang dalam sekali pada orang-orang yang bergaul dengannya. Bagi orang yang baru melihatnya, sekaligus akan timbul rasa hormat, dan bagi orang yang bergaul dengannya akan timbul rasa cinta kepadanya. Dialah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, hamba pilihan-Nya, penutup para nabi, kekasih Allah.
Akan tetapi sekarang beliau sudah tiada lagi. Sebab, sosok yang tidak akan pernah kita jumpai lagi di dunia tersebut hanyalah seorang manusia, yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya. Dia adalah seorang hamba sekaligus utusannya. Ia pun juga mengalami mati sebagaimana para rasul terdahulu juga mengalaminya.
Sejenak kita simak penuturan 'Aisyah d tentang wafat Rasulullah n.
Aisyah menuturkan, "Kebiasaan Rasulullah n jika melewati pintu rumahku beliau pasti akan mengucapkan kata-kata yang bermanfaat untukku. Suatu hari beliau melewati rumahku namun tidak mengatakan apapun, kemudian beliau lewat kembali tetapi tidak mengatakan apapun juga. Begitulah dua hingga tiga kali. Maka kukatakan kepada pembantuku, 'Letakkan bantal tempat dudukku di depan pintu!' Kemudian aku mengikat kepalaku dengan kain. Tak lama kemudian beliau pun lewat.'
Rasulullah n berkata, 'Wahai 'Aisyah ada apa denganmu?'
Aku menjawab, 'Aku merasa sakit kepala.'
Rasulullah n, berkata, 'Namun kepalaku yang lebih sakit.'
Kemudian beliau pergi dan tak lama kemudian ternyata beliau dibawa pulang dalam keadaan digotong dengan menggunakan kain, kemudian beliau mengirim utusan untuk memanggilkan istri-istri beliau. Sesudah mereka datang, beliau pun berkata kepada mereka, 'Aku sedang sakit keras dan tidak dapat lagi berkeliling ke rumah-rumah kalian maka izinkanlah aku agar dirawat di rumah 'Aisyah.'
Sejak itulah aku merawatnya. Padahal tidak pernah sebelumnya hal ini kulakukan kepada seorangpun, suatu ketika tatkala kepala beliau berada di atas pundakku, tiba-tiba kepalanya miring ke arah kepalaku. Aku mengira beliau ingin bersandar di kepalaku. Setelah itu ludah dingin keluar dari mulut beliau yang mengenai leherku dan membuatku menggigil, hal ini meyakinkanku bahwa beliau pasti dalam kepadaan pingsan, maka kututupi beliau dengan kain.
Tak lama kemudian datanglah Umar dan Al-Mughirah bin Syu'bah, keduanya meminta izin agar dapat masuk, dan aku megizinkan keduanya setelah hijab kuturunkan, lantas Umar memandang Rasulullah n dan berkata, 'alangkah beratnya pingsan yang diderita Rasulullah n, kemudian ia berdiri. Tatkala keduanya mendekati Rasulullah n, Al-Mughirah berkata, 'Wahai Umar, sesunggunya Rasulullah n telah wafat.
Umar menjawab, 'Engkau bohong, bahkan engkau adalah orang yang cepat termakan fitnah, sebab Rasulullah n tidak akan mati hingga Allah akan membinasakan habis seluruh orang-orang munafik.' 'Aisyah melanjutkan, 'Setelah itu datang Abu Bakar, dan mengangkat hijab sambil memandang ke arah Rasulullah n dan berkata, 'Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya Rasulullah n telah wafat,'
Kemudian ia mendekati kepala Rasulullah n dan mendekat ke arah mulut lalu mencium keningnya, kemudian ia berkata, 'Aduhai Nabi,' Kemudian ia mengangkat kepalanya dan kembali mendekat ke arah mulut Nabi lalu mencium keningnya sambil berkata, 'Aduhai pilihan Allah,' Kemudian ia kembali mengangkat kepalanya dan mendekat ke arah mulut Nabi lalu mencium keningnya sambil berkata, 'Aduhai kekasih Allah… Rasulullah n telah wafat!' Lantas ia keluar menuju masjid, sementara Umar sedang berpidato dan berbicara di hadapan manusia, 'Sesungguhnya Rasulullah n tidak mati hingga Allah membinasakan orang-orang munafik.'
Kemudian Abu Bakar angkat suara sambil memuji Allah dan membuka pembicaraan dengan membaca ayat,

"Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Az-Zumar: 30). Hingga selesai, kemudian membacakan ayat lainnya,

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran: 144).
Setelah itu ia berkata, 'Barangsiapa menyembah Allah maka Allah mahahidup dan tidak akan mati, dan barangsiapa menyembah Muhammad maka ketahuilah sesungguhnya Muhammad telah wafat.'
Spontan Umar bertanya, 'Apakah yang engkau bicarakan tadi terdapat dalam Kitabullah? Aku tidak merasa bahwa ayat ini termaktub dalam Kitabullah! Umar melanjutkan, 'Wahai saudara-saudara sekalian, inilah Abu Bakar dan dialah orang yang paling kita tuakan dari seluruh kaum muslimin maka bai'atlah dia.' Maka manusia pun membai'atnya'."
Demikian sepenggal kisah wafatnya Rasulullah n. Sosok yang amat kita rindukan. Sayyid Hussein Nasr menulis, "Makhluk yang paling mulai ini (Muhammad n) juga dinamakan Ahmad, Musthafa, Abdullah, Abul-Qasim, dan juga bergelar Al Amin— yang terpercaya. Setiap nama dan gelar yang dimilikinya mengungkapkan suatu aspek wujud yang penuh berkah. Ia adalah, sebagaimana makna etimologis yang dikandung dalam kata Muhammad dan Ahmad, yang diagungkan dan dipuji; ia adalah musthafa (yang terpilih), abdullah (hamba Allah  yang sempurna) dan terakhir sebagai ayah Qasim. Ia bukan hanya Nabi dan Rasul Allah, tetapi juga kekasih Allah dan rahmat  yang dikirimkan ke muka bumi, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran, 'Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai  rahmat bagi sekalian alam'." (QS. Al-Anbiyâ': 107).
Ungkapan seorang cendekiawan muslim terkemuka ini tidaklah berlebihan karena Allah Azza wa Jalla pun memuji Rasulullah n, firman-Nya, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya melimpahkan shalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah shalawat dan salam kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56). Shalawat dan salam tetap tercurah kepada Rasulullah n, sosok yang amat kita rindukan.

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655