Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

IRI KEPADA AHLI SEDEKAH

Ibnu Mas’ud menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang; pertama, kepada seorang laki-laki yang dikaruniai harta (baik banyak atau sedikit) oleh Allah, kemudian dia menghabiskan harta tersebut pada jalan yang hak. Kedua, kepada seorang laki-laki yang dikaruniai ilmu (baik banyak atau sedikit) oleh Allah, kemudian dia mengamalkan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Al-Bukhari, no. 73).
Sekalipun pada asalnya hukum dengki itu dilarang, sebagaimana sabda Rasulullah n, “Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena dengki akan menghabiskan kebaikan-kebaikan kalian sebagaimana api yang menghabiskan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud, no. 4905).
Hal ini menunjukkan bahwa dua orang di atas yaitu orang yang memiliki harta lalu dia gemar bersedekah dan orang yang berilmu lalu dia gemar mengajarkan ilmunya memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah dan manusia. Hingga dengki kepada mereka diperbolehkan.
Dengki Yang Dimaksud
Dengki yang dimaksud oleh Rasulullah n dalam hadits di atas bukan berarti kita berharap harta orang tersebut cepat habis atau bangkrut hingga dia tidak bisa bersedekah lagi, karena ini adalah dengki yang tercela yang kita dilarang untuk melakukannya. Tetapi dengki yang dimaksud adalah kita berangan-angan sekiranya kita dikaruniai oleh Allah harta sebagaimana orang tersebut maka kita akan menghabiskannya dan menginfakkannya juga di jalan Allah l bahkan kalau bisa melebihi orang tersebut. Inilah dengki yang terpuji yang kita diperbolehkan untuk melakukannya. Para ulama menyebut jenis dengki ini dengan istilah ghibthah. (Lihat Fathul Baari: 1/119).
Antara Orang Bijak Dan Orang Jahil
Nilai seorang manusia bergantung pada apa yang menjadi cita-citanya. Barangsiapa yang bercita-cita mengejar dunia maka nilainya lebih rendah dari dunia. Karena dunia itu hina, lebih hina lagi orang-orang yang mengejarnya. Dunia itu rendah dan murah. Lebih murah lagi nilainya orang yang mengejarnya.
Sebagian ulama salaf berkata, “Hati selalu berkeliling. Ada hati yang berkeliling seputar ‘Arsy dan ada pula hati yang berkeliling seputar kotoran.” Orang yang bijak cemburu kepada orang-orang yang menginfakkan hartanya pada jalan-jalan kebaikan dan dalam meraih derajat yang tinggi. Sementara orang yang bodoh cemburu kepada orang-orang yang membelanjakan hartanya untuk memuaskan syahwat yang menggiringnya pada kelezatan dan perkara haram.
Imam Asy-Syafi’i v pernah berkata, “Sekiranya dunia terbuat dari emas tapi ia akan binasa, dan akhirat terbuat dari batu-bata tapi ia kekal, pastilah orang-orang berakal akan memilih yang kekal daripada yang binasa.”        
Tidak Harus Kaya
Rasulullah n pernah ditanya tentang sedekah yang paling utama. Beliau menjawab, “Sedekah dari harta yang sedikit.” Yaitu sedekah dari orang yang fakir. (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).
Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang menemui Rasulullah n. Lalu beliau menyuruh laki-laki tersebut untuk meminta sesuatu kepada istri-istri beliau. Mereka menjawab, “Kami hanya memiliki air.” Kemudian Rasulullah n bersabda, “Siapakah yang mau menjamu orang ini?”
Seorang laki-laki Anshar berkata, “Saya.” Maka dia pun membawa orang tersebut kepada istrinya dan berkata, “Muliakanlah laki-laki ini, dia adalah tamu Rasulullah n.” Istrinya berkata, “Kita tidak memiliki apa-apa selain makanan untuk anak-anak.”
Laki-laki Anshar itu berkata, “Buatkanlah makanan. Perbaikilah lampu kita dan tidurkanlah anak-anak!” Ketika mereka hendak makan sang istri pun melaksanakan rencana tersebut. Dia bangkit seolah sedang memperbaiki lampu lalu dia memadamkannya. Kemudian keduanya menunjukkan seolah ikut makan bersama (padahal tidak). Lalu keduanya tidur dalam keadaan lapar.
Pagi harinya laki-laki Anshar itu datang menemui Rasulullah n dan beliau bersabda, “Sungguh Allah l tertawa tadi malam atau takjub melihat perbuatan kalian berdua.” Kemudian turun firman Allah l:
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).
Jangan Anda Ragu, Mulailah Sekarang!
Jangan pernah sekali-kali Anda ragu untuk berinfak sekalipun hanya seratus rupiah atau lebih kecil dari itu. Biasakanlah diri Anda untuk berinfak walaupun jumlahnya sangat kecil. Karena di dalamnya terdapat berkah dan kebaikan. Bukankah banjir yang besar bersumber dari tetesan-tetesan air yang terpencar-pencar? Namun bila tetesan-tetesan air itu bersatu maka akan terjadilah banjir yang besar.
Demikian pulalah harta. Ketahuilah wahai saudaraku! Tidak ada alasan bagi kita kelak di hadapan Allah, bila kita mampu berinfak dan bersedekah untuk menolong saudara-saudara kita, sedangkan kita bakhil dan tidak mau berinfak. Jalan dan sarana untuk berinfak semakin mudah dan semakin lebar, tidakkah kita ingin mendaftarkan diri kita untuk menjadi salah satu peserta lombanya? Jika ‘ya’ sekarang saatnya. Semoga kita menang! Wallahu A’lamu bish Shawab.

            Referensi:
1.      Fathul Baari Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.
           2.  Ash-Shadah, Fadhailuha wa Anwa’uha, Syaikh Ali bin Muhammad Ad-Dahhami.

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655