Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

Menuju Negeri Impian

Dan sekiranya penduduk negeri bariman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”[1]
Kalimat tersebut bukanlah kalimat sembarangan. Kalimat tersebut dapat dipastikan kebenarannya dan ia telah tertulis di lauhul mahfudz semenjak 5000 tahun sebelum bumi ini diciptakan. Kalimat tersebut adalah perkataan Allah l, Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta lengkap dengan penghuninya. Mahasuci Dia yang telah memberikan petunjuk bagi kita, melalui lisan Rasulullah n, kalimat yang tidak ada kesalahan sedikitpun.
Kalimat tersebut akan berlaku sepanjang masa. Sudah menjadi sunatullah dari masa ke masa. Bahkan telah dibuktikan oleh setiap ummat dari generasi ke generasi, baik generasi yang taat kepada Allah l maupun ummat yang ingkar kepada-Nya. Bagi ummat yang taat akan berakhir dengan kebahagiaan, sedangkan bagi ummat yang ingkar akan berakhir dengan kesengsaraan, baik di dunia maupun di akhirat.
Ya, bagi orang yang ingkar akan mengalami kesempitan hidup, sekalipun ia sempat mendapat kemewahan dunia. Sungguh Allah l telah memberikan banyak pelajaran kepada kita melalui kabar yang telah dibawa oleh Rasulullah n tentang ummat-ummat terdahulu. Amat banyak kisah orang-orang terdahulu yang ingkar kepada Allah l dan kepada para nabi-Nya yang akhirnya mereka sendiri membuktikan kebenaran peringatan para nabi tersebut setelah mereka binasa.
Mereka benar-benar membuktikan dengan mata kepala mereka. Namun sayang, nyawa mereka telah melewati tenggorokan, mereka harus berpisah dengan dunia untuk selamanya dan tidak akan dikembalikan lagi ke dunia, sekalipun mereka meminta seraya bersumpah dan merengek-rengek. Mereka hanya bisa menunggu waktu untuk mempertanggungjawabkan kekufuran mereka dengan adzab neraka.
Kita ingat bagaimana penduduk Saba’. Mereka telah diberi oleh Allah l dengan kebun yang luar biasa subur dan menghasilkan buah yang demikian lebatnya. Bahkan, seandainya seseorang membawa tempat buah di kepalanya, hanya dengan berjalan di kebun tersebut niscaya tempat buah tersebut akan penuh dengan buah.
”Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".[2]
Namun, apa yang terjadi? Mereka jusru kafir, hingga Allah l menurunkan azab bagi mereka. ”…Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.”[3]
Kejadian yang menimpa kaum Saba’ tersebut hanyalah satu dari sekian banyak kejadian yang telah digariskan oleh Allah l. Mereka dibinasakan karena kekafiran mereka kepada-Nya dan pengingkaran mereka terhadap peringatan-peringatan para nabi yang diutus untuk mereka. Semua itu terjadi atas kehendak Allah l agar menjadi pelajaran yang nyata bagi ummat yang hidup sesudahnya.
Sungguh mereka amat sangat berbeda dengan ummat yang taat kepada Allah l. Berbicara tentang ummat yang paling taat maka cukuplah generasi Sahabat Rasulullah n yang menjadi contoh bagi kita, sebab mereka adalah sebaik-baik generasi. Sebagaimana sabda Rasulullah n, ”Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya (tabi’in), kemudian sesudahnya (tabiut tabi’in)….[4]
Rasulullah n  telah memberikan didikan yang demikian hebat kepada para sahabat beliau. Melalui perkataan, sikap, perilaku, bahkan dari diam beliau pun. Sungguh merupakan teladan yang tidak akan pernah tertandingi oleh manusia yang pernah hidup di muka bumi ini. Dengan tarbiyah beliau, terciptalah generasi yang tangguh dikarenakan keimanan mereka berada pada puncaknya.
Mereka amat mempertimbangkan hal-hal yang bisa jadi oleh manusia dikatakan sebagai hal yang sepele, akan tetapi mereka berpikir seribu kali apakah melakukan atau meninggalkannya karena khawatir memberatkan pertanggungjawabannya di akhirat. Mereka yakin betul bahwa segala sesuatunya pasti dimintai pertanggungjawaban. Bahkan sekalipun itu hanya lintasan-lintasan yang ada dalam hati, mereka tetap memperhatikannya dengan sangat jeli.
Syahdan, beberapa waktu setelah Rasulullah n wafat, Abu Bakar menunjuk Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah bin Jarrah seraya mengatakan bahwa salah di antara keduanyalah yang pantas menjadi pemimpin. Seketika itu juga, tangan Umar gemetar mendengar perkataan Abu Bakar tersebut, sedangkan Abu Ubaidah menutup mukanya sambil menangis karena malu karena perkataan tersebut. Bahkan Umar mengatakan bahwa ia lebih memilih ditebas lehernya daripada memimpin suatu kaum yang di dalamnya terdapat Abu Bakar.[5]
Umar lantas menjawab, "Tetapi engkaulah yang lebih pantas kami baiat, engkaulah pemimpin kami, orang yang paling baik di antara kami dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah n daripada kami." Maka Umar mengangkat tangan Abu Bakar dan membaiatnya, akhirnya orang-orang pun turut membaiatnya pula.[6]
Mereka adalah para sahabat senior, keimanan mereka tidak perlu diragukan lagi. Mereka menyadari betul bahwa posisi pemimpin amatlah berat. Sebab, pertanggungjawaban atas kepemimpinan tersebut tidak hanya di dunia saja, akan tetapi yang lebih berat lagi ialah pertanggungjawaban di akhirat kelak. Karena alasan itulah mereka sangat berat menerimanya.
Mengawali kepemimpinannya, Abu Bakar berkata di depan ummat, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku diangkat menjadi pemimpin kalian, tapi aku bukanlah orang yang terbaik. Jika aku berbuat kebaikan maka bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku...." Dalam lanjutan khutbahnya, ia juga mengatakan, "Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika aku durhaka, janganlah kalian taat kepadaku.”[7]
Ditangan Rasulullah n yang dilanjutkan dengan khulafaurrasyidin-lah akhirnya terbentuk sebaik-baik generasi. Terciptalah sebuah negeri yang sangat makmur dikarenakan tegaknya hukum Islam ditangan orang-orang yang lebih mencintai akhirat daripada kehidupan dunia.
Bahkan pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, kemakmuran amat sangat luar biasa. Diriwayatkan bahwa Umar bin Asid telah berkata, ”Demi Allah, Umar bin Abdul Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang-orang, ’Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mau.’ Tetapi tiada yang mau menerimanya (karena semua sudah kaya) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya.”
Sungguh amat berbeda dengan kondisi sekarang, jabatan pemimpin yang dahulu amat dijauhi oleh para pendahulu, sekarang justru diperebutkan dengan segala daya upaya. Mereka tidak merasa perkewuh telah menghambur-hamburkan uang rakyat. Bahkan, mereka juga tidak merasa malu menyuruh orang-orang untuk memilihnya sebagai pemimpin. Mereka berlomba-lomba menyajikan kata-kata manis agar orang-orang percaya kepada mereka. Tujuannya jelas, yakni agar mereka terpilih sebagai pemimpin.
Namun, masyarakat hanyalah objek yang amat mudah dipengaruhi kata-kata manis. Lengkap dengan tipisnya keimanan mereka sehingga amat murah dibeli dengan beberapa lembar uang puluhan ribu saja. Fenomena kekufuran merebak amat cepat di negeri ini, melanda dari rakyat jelata hingga lapisan elit pemerintahan. Undang-undang Allah l dicapakkan dan dihinakan. Jika peraturan yang telah dibuat oleh Sang Maha Pencipta tidak disetujui oleh parlemen maka ditinggalkan begitu saja.
Demikianlah kondisi yang menimpa negeri ini. Dikatakan tongkat kayu dan batu jadi tanaman, tetapi pada kenyataannya amat berlainan. Musibah melanda silih berganti. Ketika manusia memohon hujan pada kemarau yang panjang, justru yang datang ialah banjir, ketika manusia memohon agar dihilangkan banjir, justru yang datang adalah kebakaran hutan. Tak cukup itu saja, kita sendiri pun sudah terlalu sering mendengar berita musibah yang menghiasi setiap penayangan berita. Bencana alam, kelaparan, kemiskinan, dan tindakan kriminal sangat akrab ditelinga kita.
Sekarang semuanya kembali kepada kita, dengan melihat sejarah yang ada, tentunya kita tidak berharap banyak kepada orang yang gila akan jabatan dalam pergulatan perebutan kekuasan selama undang-undang Allah l dicampakkan. Kita akan kembalikan semuanya tentang bagimana generasi salaf mengatur segala aspek kehidupan, kita bersama berdakwah, menyusun langkah menuju ke negeri yang kita dambakan bersama, yakni negeri yang diatur dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.


[1] QS. Al-A’râf: 96.
[2] QS. Saba’: 15.
[3] QS. Saba’: 16-17.
[4] Hadits Shahih dalam Silsilah Shahihah, Syaikh Al-Albani, no. 299, maktabah syamilah v2.11.
[5] Oaseislam.com.
[6] Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir.
[7] Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, maktabah syamilah v2.11.

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655