Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

RUKHSHAH SEBUAH ANUGERAH YANG TERZHALIMI (Bagian 2 -habis)

Hukum Rukhshah dan Contoh-Contohnya
Para ulama menjelaskan bahwa hukum rukhshah berbeda-beda. Terkadang menjadi wajib untuk diamalkan, seperti memakan bangkai atau babi dalam kondisi darurat, yaitu kondisi jika dia tidak memakan bangkai atau daging babi itu dia akan mati. Para ulama menjelaskan bahwa mengambil rukhshah ini hukumnya wajib.
Contoh lain ialah bahwa menutup aurat hukumnya wajib dan menampakkannya kepada yang bukan mahram adalah haram. Tetapi, ketika seseorang ini melakukan operasi (karena penyakit tertentu), dan tim dokter menyatakan bahwa untuk mengobati penyakitnya harus dilakukan tindakan operasi bedah, maka tidak masalah bagi orang tersebut membuka aurat dan memperlihatkannya kepada yang bukan mahramnya jika hal itu terpaksa harus dilaksanakan.
Terkadang rukhshah hukumnya sunnah. Seperti mengqashar shalat (empat rakaat diqashar menjadi dua rakaat) bagi musafir, atau meninggalkan shaum Ramadhan bagi musafir dan menggantikannya pada hari-hari lain. Masih banyak contoh-contoh rukhshah lainnya yang telah dijelaskan oleh Allah l dan Rasul-Nya.

            Hukum mencari-cari Rukhshah
Syetan senantiasa berusaha menggelincirkan dan menyesatkan manusia dari jalan kebenaran dengan cara yang beraneka ragam. Salah satunya ialah mencari rukhsah (pendapat paling ringan) dari para fuqaha’ dan mengikuti kesalahan-kesalahan mereka.
Dengan cara ini syetan menipu banyak kaum muslimin yang bodoh sehingga hal-hal yang haram dilanggar dan hal-hal yang wajib ditinggalkan karena bergantung kepada pendapat atau rukhsah yang palsu. Jadilah orang-orang bodoh tersebut memposisikan hawa nafsu mereka sebagai hakim dalam masalah-masalah khilafiyah (perselisihan).
Mereka memilih pendapat yang paling mudah menurut hawa nafsu mereka tanpa bersandar dalil syar’i. Bahkan karena taqlid kepada kesalahan seorang alim, yang seandainya orang alim tersebut mengetahui kebenaran maka dia akan meninggalkan pendapatnya (yang salah tersebut) tanpa ragu-ragu.
Orang-orang bodoh tersebut selalu beralasan bahwa yang mereka lakukan bukanlah berdasarkan pendapat mereka semata, tetapi ada ulama yang memfatwakan demikian. Mereka juga mengatakan bukanlah mereka yang dimintai pertanggung jawaban adalah pada ulama yang memfatwakannya, jika benar atau salah. Bahkan mereka mengambil rukhsah dari para fuqaha’ pada suatu permasalahan dan meninggalkan pendapat-pendapat para fuqaha itu pada permasalahan yang lain.
Mereka menyesuaikan antara madzhab-madzhab dan menggabungkan pendapat-pendapat (menurut hawa nafsu mereka—pent). Mereka menyangka telah melakukan amalan yang sebaik-baiknya (padahal malah sebaliknya—pent).
Syetan telah menyebarkan kepada orang-orang bodoh tersebut perkataan, ”Letakkanlah dia di leher orang alim, dan keluarlah darinya dalam keadaan selamat.” (Maksudnya yaitu serahkan tanggung jawab akibat perbuatan kalian kepada orang alim yang memfatwakan hal itu, maka kalian akan keluar dengan selamat tanpa beban—pent).
Ketika timbul suatu masalah pada salah seorang di antara orang-orang bodoh tersebut, dia akan pergi kepada sebagian ulama yang tasahul (mudah memberikan jawaban yang ringan dan enak—pent) dalam berfatwa, lalu mereka dicarikan rukhsah yang telah difatwakan oleh seseorang, lalu ulama tersebut berfatwa dengan rukhsah tersebut padahal rukhsah itu menyelesihi dalil dan kebenaran yang telah mereka yakini.
Mereka terdiri dari dua golongan, pertama ialah orang awam yang pergi ke ulama yang tasahul dalam berfatwa, kedua ialah mufti yang mencari keridhaan manusia yang tidak berfatwa dengan dalil.
Lantas apa yang dimaksud dengan rukhsah di sini?
Yang dimaksud dengan rukhsah di sini adalah pendapat para ulama yang paling ringan (paling enak—pent) dalam masalah khilafiyah yang tidak bersandar kepada dalil yang shahih. Atau kesalahan seorang alim mujtahid yang kesalahannya tersebut diselisihi oleh para mujtahid yang lain. Inilah makna rukhsah menurut bahasa.
Adapun secara syar’i yaitu istilah terhadap sesuatu yang berubah dari perkara yang asal karena adanya halangan, atau untuk kemudahan dan keringanan. Seperti diqasharnya shalat ketika safar.
Imam Asy-Syatibi berkata, ”Seperti memisahkan diri dari (ajaran) agama dengan tidak mengikuti dalil beralih mengikuti khilaf (perselisihan), meremehkan agama, meninggalkan apa-apa yang telah diketahui (kebenarannya), rusaknya kaedah politik yang syar’i, yaitu dengan tidak adanya ketegasan amar ma’ruf (sehingga para hakim pun berbuat sewenang-wenang dalam keputusan-keputusan hukum mereka, maka seorang hakim berfatwa dengan rukhsah kepada orang yang dia senangi dan berfatwa yang menyulitkan kepada yang dia tidak sukai. Maka tersebarlah kekacauan dan kedzaliman, dan seperti menjadi sarana menuju pendapat mengabung-gabungkan madzhab-madzhab dengan cara yang merusak ijma.”

Penutup
Dari penjelasan di atas, bahwa Allah l dan Rasul-Nya telah menetapkan beberapa rukhshah bagi umat-Nya, oleh karenanya, kita mengambil rukhshah-rukhshah yang telah jelas dalil-dalil syar'inya, sehingga kita tidak termasuk orang yang mencari-cari rukhshah, yang mengandalkan akal, hawa nafsu, dan perkataan segelintir ulama yang tidak berdasarkan kepada dalil. Wallahu Ta'ala A'lamu bish Shawab.

Referensi:
1.      Ma'alim Ushul Fiqh, Syaikh Muhammad bin Husain Al-Jizani.
2.      Ahkam Tatabbu'ir Rukhash, Syaikh Abu Abdirrahmhman Ibrahim bin Abdillah Al-Mazru'i.
            Dan lain-lain.

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655