Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

Umar bin Abdul Aziz dan Sang Buah Hati (Bagian 1)

            Belum lagi tabi'in yang agung Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz membersihkan tangannya dari mengebumikan jenazah khalifah sebelumnya Sulaiman bin Abdul Malik, tiba-ti­ba beliau mendengar suara gemuruh tanah di sekitarnya, lalu beliau berkata, "Ada apa ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah kendaraan-­kendaraan khilafah wahai Amirul Mukminin, telah dipersiapkan agar Anda sudi menaikinya.” Beliau memandang dengan sebelah matanya dan berkata dengan terputus-putus karena lelahnya dan rasa kantuknya setelah semalam tidak tidur, ”Apa urusanku dengan kendaran ini?! Jauhkanlah ia dariku, semoga Allah memberkahi kalian. Dekatkan saja bighal milikku, karena itu cukup bagiku."
"Bukankah Anda tahu bahwa setiap umat itu memiliki orang yang mulia, dan orang mulia bagi Bani Umayyah adalah Umar bin Abdil Aziz, dan dia akan dibangkitkan pada hari kiamat menjadi umat yang satu." (Muhammad bin Ali bin Al-Husein)
Belum sempat beliau meluruskan posisi punggungnya di atas bighal, tiba-tiba datanglah kepala prajurit yang berjalan mengawal di depan beliau beserta beberapa pasukan yang berjalan berbaris di kanan dan kiri beliau, sedang di tangan mereka menggenggam tombak yang ber­kilau.
Khalifah berkata kepada kepala prajurit tersebut, ”Aku tidak mem­butuhkan Anda dan juga mereka. Aku hanyalah orang biasa dari kaum muslimin, berjalan sebagaimana mereka berjalan.” Kemudian beliau berjalan dan orang-orangpun berjalan hingga sampai ke masjid, lalu dikumandangkanlah adzan serta seruan "shalat jama'ah... shalat jama'ah..." Lalu manusia memenuhi masjid.
Setelah manusia berkumpul, Umar bin Abdul Aziz naik mimbar dan berkhot­bah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya lalu mengucapkan shalawat atas Nabi kemudian berkata, ”Wahai manusia, sesungguhnya aku telah mendapat musibah de­ngan urusan ini (yakni diangkatnya beliau sebagai khalifah), tanpa per­timbangan dariku, tanpa aku memintanya, tanpa musyawarah di an­tara kaum muslimin, maka aku lepaskan baiat yang melilit leher kalian dariku... lalu silahkan kalian memilih pemimpin lagi yang kalian ridhai."
Maka manusia berteriak dengan satu suara, "Kami memilih Anda wahai Amirul Mukminin dan kami ridha kepada Anda. Kami serah­kan urusan kami dengan harapan keberuntungan dan keberkahan." Ketika beliau melihat suara-suara mulai tenang dan hatipun mulai ter­tata, maka beliau bertahmid kepada Allah untuk kesekian kalinya dan mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad sebagai hamba dan utusan-Nya.
Beliau menganjurkan manusia untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, zuhud di dunia, berharap kenikmatan akhirat serta mengingat­kan kepada mereka tentang kematian. Hingga sanggup melunakkan hati yang keras dan meneteskan air mata orang yang sadar akan do­sanya. Begitulah nasihat yang keluar dari hati akan sampai di hati orang yang mendengarnya.
Beliau mengeraskan suara agar semua orang mendengarnya, "Wa­hai manusia, barangsiapa yang taat kepada Allah maka wajib untuk ditaati dan barangsiapa yang memerintahkan maksiat maka tiada ketaatan kepadanya siapapun dia. Wahai manusia, taatilah aku selagi aku mentaati Allah dalam memerintah kalian. Namun, jika aku ber­maksiat kepada Allah, maka tiada kewajiban sedikitpun bagi kalian untuk mentaatiku."
Selanjutnya beliau turun dari mimbar dan beranjak menuju ru­mahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Beliau ingin sekali istirahat barang sejenak setelah menguras tenaganya karena banyaknya kesi­bukan pasca wafatnya khalifah sebelumnya. Akan tetapi, belum lagi lurus punggungnya di tempat tidur, tiba-­tiba datanglah putera beliau yang bernama Abdul Malik -ketika itu dia berumur 17 tahun- dia berkata, "Apa yang ingin Anda lakukan wahai Amirul Mukminin?"
Umar bin Abdul Aziz menjawab pertanyaan anaknya, "Wahai anakku, aku ingin memejamkan mata barang sejenak karena sudah tak ada lagi tenaga yang tersisa."
"Apakah Anda akan tidur sebelum mengembalikan hak orang-orang yang dizhalimi wahai amirul mukminin?" Abdul Malik bertanya lagi.
Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Wahai anakku, aku telah begadang semala­man untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman, nanti jika telah datang waktu dhuhur aku akan shalat bersama manusia dan akan aku kembalikan hak orang-orang yang dizhalimi kepada pemiliknya, insya Allah."
Abdul Malik melanjutkan pertanyaannya, "Siapa yang menjamin bahwa Anda masih hidup hing­ga datang waktu dzuhur wahai Amirul Mukminin?"
Kata-kata ini telah menggugah semangat Umar, hilanglah rasa kan­tuknya, kembalilah semua kekuatan dan tekad pada jasadnya yang telah lelah, beliau berkata, "Mendekatlah engkau nak!" Lalu mende­katlah putera beliau kemudian beliau merangkul dan mencium ke­ningnya sembari berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menge­luarkan dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu melaksanakan agamaku."
Kemudian beliau bangun dan memerintahkan untuk menyeru ke­pada manusia, "Barangsiapa yang merasa dizhalimi hendaklah se­gera melapor."
Lalu, siapakah gerangan Abdul Malik itu? Orang-orang berkata tentang beliau ini: "Sesungguhnya dialah yang memberikan motivasi kepada ayahnya hingga menjadi seorang ahli ibadah dan dia pula yang mem­bimbing ayahnya menempuh jalan zuhud," Maka marilah kita menel­usuri kisah pemuda yang shalih ini dari awalnya.
Umar bin Abdul Aziz memiliki 15 anak, tiga di antaranya adalah wanita. Mereka seluruhnya memiliki prestasi dalam hal takwa dan ­tingkat keshalihannya. Akan tetapi Abdul Malik bagaikan inti kalung di antara saudara-saudaranya, atau seperti bintang di tengah-tengah mereka. Beliau adalah seorang yang sopan, mahir dan cerdas, umur­nya masih muda namun akalnya begitu dewasa.
Beliau tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sejak memasuki usia remaja. Beliau adalah orang yang paling mirip dengan Abdullah bin Umar di antara seluruh keturunan Al-Khathab. Khususnya dalam hal ketakwaan, rasa takutnya bermaksiat dan taqarrubnya kepada Allah dengan ketaatan.
Putera paman beliau yang bernama 'Ashim bercerita, "Aku tiba di Damaskus dan menginap di rumah putera pamanku Abdul Malik yang ketika itu masih bujang. Kami shalat Isya’ dan setelah itu masing-masing masuk ke kamar tidurnya. Lalu Abdul Malik men­dekati lampu dan memadamkannya. Kami pun telah merasa kantuk. Ketika itu aku bangun di tengah malam dan ternyata Abdul Malik tengah berdiri shalat dalam kegelapan; sedangkan ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya" (Asy-Syu'ara': 205-207).
Kudengar dia mengulang-ulang ayat tersebut sembari menahan tangisnya dan akhirnya keluar pula air matanya yang tak mampu dia tahan. Setiap kali sampai di ayat tersebut dia mengulanginya sam­pai-sampai aku berkata dalam hati, "Tangisan itu bisa menyebabkan kematiannya." Maka tatkala aku melihatnya aku mengatakan, "Laa ilâha illallâh wal hamdulillâh" seperti yang biasa diucapkan orang tatkala terjaga dari tidumya, dengan harapan agar ia menghentikan tangisnya begitu mendengar ada orang yang bangun. Tatkala dia mende­ngarku maka iapun diam dan aku tidak mendengar lagi isak tangis­nya.
Pemuda keturunan Umar ini berguru kepada ulama-ulama senior pada zamannya hingga begitu akrab dengan Kitabullah, mengambil bagian yang banyak dari hadits Rasulullah n dan mendalami ilmu­-ilmu agama. Hingga pada gilirannya beliau masuk dalam kelompok pertama dari fuqaha' penduduk Syam pada zamannya kendati masih muda belia.
Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah mengum­pulkan para penghafal Kitabullah dan para fuqaha' di Syam lalu ber­kata, "Sesungguhnya aku mengundang kalian untuk suatu urusan ke­zhaliman yang terjadi dalam keluargaku (yakni pada masa khalifah Sulaiman), bagaimana pendapat kalian?"
Mereka menjawab, "Wahai amirul mukminin, sesungguhnya hal itu bukanlah tanggung jawab Anda, dan dosanya ditanggung oleh orang yang merampas hak tersebut. "Namun jawaban tersebut belum bisa memuaskan hati Umar. Kemudian salah seorang di antara mereka yang tidak sependapat dengan pendapat tersebut berkata, "Undang­lah Abdul Malik wahai Amirul Mukminin, karena beliau layak untuk Anda undang karena ilmu" kefakihan dan kecerdasannya." Tatkala putra Umar, yakni Abdul Malik masuk, amirul mukminin bertanya, "Bagaimana pendapatmu tentang harta yang diambil oleh anak-anak paman kita (Sulaiman) secara zhalim? Padahal orang-orang yang memiliki hak tersebut telah datang dan menuntutnya, sementara kita mengetahui hak mereka?"
Abdul Malik berkata, "Menurut hemat saya, hendaknya Anda mengembalikan barang tersebut kepada yang memiliki selagi Anda mengetahui urusannya, karena jika Anda tidak melakukannya maka Anda telah berserikat dengan orang yang mengambil hak dengan cara yang zhalim." Menjadi teranglah hati Umar, menjadi tenanglah jiwa beliau dan hilanglah rasa gelisah yang menyelimuti hatinya. (Bersambung)

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655