Ada Pertanyaan? Hubungi Kami di 081 80 253 8484 atau kirim email ke redaksi@baitulmalfkam.com

Umar bin Abdul Aziz dan Sang Buah Hati (Bagian 2 -habis)

Abdul Malik, putera Umar bin Abdul Aziz ini lebih memilih hidup di bumi ribath ­(perbatasan untuk menjaga wilayah dari serangan musuh) dan menetap di desa yang dekat dengannya daripada tinggal di Syam. Beliau menuju ke sana dan beliau tinggalkan Damaskus yang penuh dengan taman yang subur, pepohonan yang rindang dan sungai-sungai yang indah.
Ayahanda beliau (Umar bin Abdul Aziz)—kendati telah mengetahui betul akan keshalihan dan ketakwaannya—masih merasa khawatir jika anaknya tergelincir oleh tipu daya syetan, amat mendambakan jika anaknya senantiasa menjadi pemuda yang tegar. Beliau selalu ingin mengetahui urusan­nya selagi mampu mengetahuinya. Beliau sama sekali tidak meremehkan urusan ini.
Maimun bin Mahran, menteri Umar bin Abdul Aziz sekaligus penasihat yang membantu beliau bercerita, ”Aku menemui Umar bin Abdul Aziz sedangkan aku lihat beliau tengah menulis surat yang ditujukan untuk putera beliau Abdul Malik. Beliau bermaksud menasihati putranya, memberikan pengarahan, pe­ringatan dan kabar gembira.
Di antara yang beliau tulis adalah, ’Amma ba'du, sesungguhnya orang yang paling berhak untuk men­jaga dan memahami perkataanku adalah engkau. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala -alhamdulillah- telah mengaruniakan kebaikan kepada kita sejak kecil hingga sekarang. Maka ingatlah wahai anakku akan karunia Allah kepadamu dan juga kepada kedua orang tuamu. Jauhilah olehmu sifat takabur dan merasa besar, karena hal itu adalah perbuatan syetan, sedangkan syetan adalah musuh yang nyata bagi orang-orang yang beriman.
Ketahuilah, sesungguhnya aku mengirim surat ini untukmu bu­kan karena aku mendengar suatu berita tentangmu, aku tidak men­dengar berita tentangmu kecuali yang baik-baik. Hanya saja telah sampai kepadaku tentang kebanggaanmu terhadap dirimu. Sean­dainya rasa ujub ini muncul pada dirimu hingga menyebabkan aku tidak menyukainya, maka engkau akan melihat sesuatu yang tidak kau sukai dariku’."
Maimun berkata, "Kemudian Umar menoleh kepadaku seraya berkata, ’Wahai Maimun, sesungguhnya dalam pandangan mataku Abdul Malik begitu baik, namun aku khawatir jika kecintaanku kepadanya mengalahkan pengetahuanku terhadapnya, sehingga aku men­dapatkan diriku seperti orang tua yang buta, pura-pura tidak tahu terhadap kekurangan anaknya. Maka datanglah kepadanya, selidikilah keadaannya dan lihatlah apakah engkau melihat tanda-tanda kesombongan dan kebanggaan pada dirinya? Karena dia masih terlalu muda, belum tentu aman dari tipu daya syetan’."
Maimun berkata, "Maka aku melakukan perjalanan menemui Abdul Malik hingga bertemu dengannya. Aku meminta ijin lalu masuk. Ter­nyata dia adalah seorang pemuda yang masih belia, pemuda yang ga­gah, tampan dan tawadhu', dia duduk di atas alas dari rambut. Dia mendekat kepadaku kemudian berkata, "Aku telah mendengar ayah menyebut-nyebut kebaik­an Anda, saya berharap agar Allah memberikan manfaat karena Anda."
Maimun membalas dengan pertanyaan, ”Bagaimanakah keadaan Anda hari ini?"
Abdul Malik menjawab, "Mendapatkan kebaikan dan nikmat dari Allah l. Hanya saja saya takut jika aku terpedaya oleh sikap husnudhan ayah kepadaku, padahal saya belum mencapai keutamaan sebagai­mana yang beliau duga. Aku khawatir jika kecintaan beliau ke­padaku telah mengalahkan pengetahuan beliau tentang diriku, sehingga hal itu menjadi bencana bagiku."
Maimun berkata dalam hati, ”Aku sungguh heran bagaimana keduanya bisa sepakat pemikirannya, kemudian melanjutkan pertanyaannya, ”Beritahukanlah kepadaku, dari mana engkau men­cari nafkah?"
Abdul Malik menjawab, "Dari hasil bumi yang telah aku beli dari orang yang mendapatkan warisan dari ayahnya, aku membayarnya dengan uang yang tidak ada syubhat di dalamnya. Dengannya aku dapat mencukupi kebutuhanku."
"Apa yang kau makan setiap harinya?" tambah Maimun.
Abdul malik menjawab, "Sehari daging, sehari adas dan sehari makan cuka dan zaitun, dengan ini cukup untuk hidup."
­Maimun menambahkan, "Apakah engkau merasa bangga dengan keadaanmu?"
"Begitulah pada awalnya, namun manakala ayah menasihatiku dan memberikan pengertian kepadaku dan mengingatkan akan kekuranganku, maka Allah memberikan manfaat kepadaku dengannya, semoga Allah membalas kebaikan ayah dengan balasan yang baik." Demikian paparan Abdul Malik.
Kemudian aku (Maimun) duduk-duduk beberapa saat sambil ber­bincang-bincang dengannya, maka aku tidak melihat pemuda yang lebih tampan, lebih berakal, lebih bagus adabnya darinya kendati masih sangat muda dan sedikit pengalamannya. Ketika waktu telah menjelang sore, seseorang mendatanginya dan berkata, "Semoga Allah menjadikan Anda sejahtera, kami telah me­ngosongkannya...” Dia terdiam, lalu aku bertanya, ”Apa maksud perkataannya, ’kami telah mengosongkannya?’"
"Kolam mandi." Jawaban Abdul Malik singkat.
Maimun memburu dengan pertanyaan, "Ada apa dengan kolam mandi itu?"
Abdul Malik menjawab, "Orang-orang mengosongkannya untukku."
Maimun menuturkan, ”Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang besar, hingga aku mendengar berita ini.”
Abdul Malik (Dengan rasa takut dan membaca istirja'-inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) kemudian berkata, ”Dalam hal mana, wahai paman?"
Maimun menambahkan, "Apakah kolam tersebut milikmu?"
Abdul Malik menjawab, ”Bukan!”
Maimun bertanya, "Lantas atas dasar apa kamu menyuruh orang-orang keluar darinya kemudian engkau memakainya? Seakan engkau ingin me­ngunggulkan dirimu di atas mereka dan engkau menjadikan ke­hormatanmu di atas kehormatan mereka? Engkau juga mengganggu pemilik kolam tersebut untuk memenuhi kebutuhan hariannya dan engkau membuat orang-orang kecewa karena harus pulang lantaran tak boleh masuk."
Abdul Malik menjawab, "Tentang pemilik kolam, dia telah merelakan dan mem­berikan haknya kepadaku."
Maimun menjelaskan sembari bertanya, "Itulah pelayanan yang dengannya engkau dapat tercemari oleh takabur. Apa yang menghalangimu untuk masuk bersama manusia, sedangkan engkau seperti mereka juga?"
Abdul Malik menjelaskan, "Yang menghalangiku ialah sebagian orang-orang miskin masuk kolam tanpa mengenakan penutup, maka aku tidak suka melihat aurat mereka. Dan aku tidak bisa pula memaksa mereka untuk mengenakan penutup karena mereka akan menganggap seakan saya menggunakan kekuasaan saya yang mana saya memohon kepada Allah agar membersihkan kami dari tendensi semacam itu. Maka berilah nasihat kepadaku semoga Anda mendapatkan rahmat dari Allah, sehingga saya bisa mengambil manfaatnya. Dan berilah masukan agar saya bisa memecahkan persoalan ini."
Maimun menasehati, "Tunggulah sampai orang-orang keluar semua dari kolam di malam hari dan mereka telah kembali ke rumah masing-masing, kemudian barulah kamu masuk kolam."
Abdul Malik berkata, "Baik, aku janji tidak akan masuk ke dalamnya di siang hari setelah hari ini." Kemudian dia diam sejenak seakan memikir­kan sesuatu. Lalu dia mengangkat kepalanya dan berkata, "Saya memohon kepada Anda agar tidak menyampaikan kabar ini kepada ayah, karena aku khawatir dia akan marah kepadaku. Aku takut jika sewaktu-waktu ajal tiba sedangkan beliau dalam keadaan tidak ridha kepadaku."
Maimun berkata, "Jika Amirul Mukminin bertanya apakah aku me­lihat suatu kejanggalan pada dirimu, apakah engkau rela jika aku harus berdusta kepada beliau?" Dia menjawab, "Tentu saja tidak, na'udzubillah, akan tetapi Anda bisa berkata, ’Aku memang melihat sesuatu darinya, lalu aku telah menasihatinya dan memberikan gam­baran kepadanya bahwa urusannya itu besar, kemudian dia mau mem­perbaiki dirinya.’ Karena ayah tidak akan meminta Anda untuk mem­buka rahasia ini selagi Anda tidak menceritakan kepada beliau. Dan Allah l telah menjaga beliau dari mengorek sesuatu yang menjadi rahasia."
Maimun berkata, "Aku belum pernah melihat seorang anak dan orang tua semisal keduanya, semoga Allah merahmati keduanya."
           Semoga Allah meridhai Khalifah Umar bin Abdul Aziz, semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada beliau di kuburnya dan juga Abdul Malik putra dan jantung hatinya. Semoga keselamatan menyertai mereka di hari perjumpaan dengan Ar-Rafiiqul A'la, keselamatan menyertai keduanya di hari kebangkitan bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. (Selesai)

Delete this element to display blogger navbar

 
Baitulmal FKAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets,Menopause symptoms, and modified by Baitulmal FKAM | Email: baitulmalsolo@gmail.com | Kontak: Hp. 0897658655